Nakula.

Kepada sepasang bola mata yang ku temui di sudut sekolah, tepatnya kau di lantai dua dan aku satu lantai di bawahnya. Kala itu kau telah lebih dulu mengenalku, sedangkan aku tak sama sekali tahu siapa kamu. Aku ingat jelas bagaimana mataku kerap menangkap basah matamu yang sedang menatapku dalam diam lengkap dengan senyuman, entah apa maksudnya, hanya kau, hatimu dan Tuhan yang tahu.

Kesendirian yang sama-sama kita miliki membuat aku dan kamu saling mengenal, lebih jauh dan lebih dalam lagi. Tidak segera, namun perlahan kau dapat pastikan aku mengagumimu, dan mulai menaruh rasaku dalam ragu. Ingatkah bagaimana ketika pertama kali kita saling menatap dalam dekat? Bukan canggung yang ada di tengah kita, melainkan bahagia, karena akhirnya dapat bertatap mata di lantai yang sama.

Kau perlu tahu, jika matamu adalah bagian pertama yang membuatku jatuh, kemudian senyummu memikatku lebih jauh, namun ragu lagi-lagi datang dengan membawa rekan-rekannya, aku kembali diam dan tak dapat memberimu kepastian. Kau adalah Nakula yang ku cinta, namun tak bisa ku miliki sebab Sadewa lebih dulu menyatakan cintanya padaku. Dan, pada akhirnya aku tak memilih salah satu dari kalian berdua. Meski Sadewa bilang padaku untuk memilihmu, Nakula. Aku tetap tak bisa melihat Sadewa sakit saat kita sedang asik jatuh cinta. Aku tak ingin kalian berdua saling hardik hanya karena masalah cinta.

Nakula, kau lelaki yang pertama kali ku beritahu jika waktu dan jarak tak mempengaruhi perasaanku padamu, tak berubah dan masih menyayangimu. Nakula, kau lelaki pertama yang membuatku begitu ingin lama-lama bersama, sebab mata dan senyummu begitu membuatku nyaman dalam damainya. Nakula, kita tak pernah saling bersentuhan, jangankan berpelukan, saling menggenggam tangan pun kita tak pernah, namun kau terasa begitu dekat dan melekat untukku.

Kepadamu Nakula, aku butuh waktu lama untuk mengusir ragu dan bisa menerimamu, namun sayang waktu yang ku pakai untuk meyakinkan hatiku terlalu lama membuatmu menunggu dan akhirnya memutuskan untuk pergi, berhenti mencari kepastian dariku. Kepadamu Nakula, aku butuh bertahun-tahun untuk bisa ikhlas dan kembali jatuh cinta pada yang lainnya, sebab rasa penasaranku baru berhasil ku bunuh setelah ku tahu dari mulutmu sendiri jika jarak dan waktu telah berhasil mengubah rasamu untukku. Dan, berkat kamu Nakula, aku tahu benar rasanya mencinta dalam kehilangan, sebab kau menghilang begitu saja, sekejap mata.

Nakula, sejak pertama ku lihat matamu dari kejauhan, hingga akhirnya ku tatap dekat dan melekat, aku jatuh cinta. Tapi, cinta yang ku punya untukmu datangnya tak seiring dengan cinta yang kau punya untukku, maka itu, kita tak pernah bisa satu.

Sebab, kau bintang dan aku hujan. Kita tak akan pernah bisa ada dalam satu malam yang sama kecuali Tuhan menurunkan restu secara tiba-tiba dan ajaibnya.

#30HariMenulisSuratCinta
#HariKeenam
#ForTheFirstTimeinForever
#Nakula

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s