Sebuah saling yang tanpa restu.

Hei,
Kamu yang menyambutku di gerbang itu, masih ingatkah bagaimana canggung hadir sebagai pihak ketiga kala kita bertemu pertama kali? Aku masih ingat jelas, senyum dan tawamu yang seolah berkata ‘Akhirnya tatap muka juga’ padaku. Kau perlu tahu sebesar apa bahagiaku kala menemuimu, kamu yang berbulan-bulan ku nanti untuk dapat ku lihat tanpa alat bantu apa pun; termasuk kacamata minusku. Sebab, aku tak lagi ingin jarak membuat kita terpisah meski hanya satu jengkal.

Hei,
Kamu yang membuatku tak ingin pulang, sebab kau dan keluargamu begitu ramah, membuatku merasa di rumah. Masih ingatkah kau saat kita makan siang bersama? Nasimu jatuh berantakan, kau salah tingkah? Sepertinya iya. Aku terkekeh melihatmu yang begitu lucu dan menggemaskan, lagi-lagi membuatku tak ingin pulang, atau jika harus pulang, aku ingin membawamu serta ke rumah. Yang belakangan baru ku sadari jika pulang adalah tempat di mana kita bersama-sama ada.

Hei,
Kamu yang membuatku ingin hentikan detik, agar waktu tak berjalan dan kebersamaan kita tak berubah usang. Kita sama-sama tahu aku dan kamu adalah saling yang tak mungkin berpaling. Setahun lebih kita berusaha membuka pintu, mencari kunci bernama restu, namun akhirnya tak jua kita dapatkan. Kita terhadang dinding besar, yang kemudian Tuhan ingatkan untuk jangan pernah merubuhkannya. Kita ada di ruang terpisah, yang kemudian Tuhan ingatkan untuk jangan pernah coba membukanya, sebab di dalam sana adalah neraka. Kita begitu ingin bersama, tapi semesta tak sedikitpun menginginkan kita. Lalu kita bisa apa selain terus berjalan?

Hingga kini kita terus melanjutkan langkah, bukan? Kau ke sana dan aku ke sini, arah kita tak lagi sama, meski tujuan masih serupa. Hingga kini kita tak lagi bersama, meski hati masih saling menyayangi. Kita tak berhak atas ini, sayang. Skenario hidup yang Tuhan tulis memang tak pernah memisahkan kita, tapi tak juga menyatukan kita dalam lembar berjudul ‘Jodoh’.

Bersahabatlah denganku, karena aku kan selalu ada untukmu. Pundakku untuk kau bersandar. Dadaku untuk kau rebah saat lelah. Genggam aku kala kau goyah. Telingaku pendengar segalamu bercerita. Dan, segalaku menerima segalamu tanpa tapi. Maukah kau temani aku? Untuk sama-sama mencari pemeran utama urusan hati? Aku harap kau bersedia. Aku ikhlas atasmu. Ku yakin kau pun bisa ikhlas atasku. Sebab, Tuhan tak pernah jahat, Ia terlalu baik, maka mengenalkanmu padaku tanpa pernah mengambilmu kembali, sepenuhnya dariku.

#30HariMenulisSuratCinta
#HariKelima

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s