Mendamba kepulangan yang sedang berkelana.

Beberapa tahun lalu, aku adalah seorang perempuan yang memutuskan untuk menua di jalan. Sebab, empat jam dalam sehari ku habiskan dalam perjalanan, bahkan pada hari-hari tertentu bisa lebih dari itu. Sembilan hingga sepuluh jam ku habiskan di kantor. Menyelesaikan tanggung jawab. Aku kehilangan waktu untuk berbagi tawa bersama keluarga dan sahabat-sahabat. Lantas, apa aku mengeluh? Tidak sama sekali. Aku menikmati perjalanan pulang pergi Citayam-Bekasi selama setahun lebih. Dengan sepeda motor yang begitu setia menemani.

Atasan di kantor kerap melemparkan perhatian lewat omelan-omelan sederhana.

“Mungkin badanmu sekarang baik-baik saja, tapi kamu lihat efeknya dalam jangka panjang nanti, gak kasian sama badan sendiri? Bandel banget sih, ngekost aja kenapa, rumahmu terlalu jauh, kamu perempuan.”

Kurang lebih begitu perhatian yang ku dapat dalam bentuk peringatan. Dan, aku masih saja tetap pada pilihan; pulang ke rumah seusai kerja, tak peduli jam berapapun itu, yang ku tahu hanya satu, mama papa menungguku di rumah. Mereka setia membukakan pintu untuk putri bungsunya yang kerap lelah namun tetap bahagia. Mereka menyempatkan waktu untuk kembali terjaga dari tidurnya, menemaniku santap malam jika lapar, hingga aku mengucapkan selamat malam dan pamit tidur.

Itu alasan terbesar mengapa rumah adalah tujuan pulang paling tiada dua. Di tempat lain, tak ada wajah mama papa yang seketika bisa menghapus lelah, membunuh rasa menyerah yang baru saja ingin tumbuh. Dan, semangatku penuh lagi, utuh lagi.

Sampai pada akhirnya, peringatan atasanku berbuah nyata, fisikku menyerah. Tuhan memberiku sakit, yang arti lainnya, Tuhan mau aku istirahat, Tuhan mau aku untuk tak lupa menyayangi diri sendiri, merawat tubuhku sendiri. Kali ini Tuhan menyayangiku dengan cara ini.

Aku memutuskan untuk mengundurkan diri, berhenti dari pekerjaanku yang teramat nyaman itu. Dan, menikmati waktu bersama sakit yang sedang bertamu.

Hingga kini? Entahlah. Aku bukan lagi perempuan kuat, tapi juga tak lemah. Semangatku tak pernah habis, tapi ragaku rapuh, ia menghentikan langkah yang sedang ku tapaki dengan serius. Belakangan baru ku sadar, ragaku lemah karena pikiranku berantakan. Beberapa cabang berisi masalah, beberapa lagi pun masalah, dan aku simpan semuanya sendiri. Sendiri. Sebab, untuk apa membagi sesuatu yang tak dapat dimengerti?

Kini, tubuhku merindu segala sembuh, merindu segala sehat, yang entah sedang di mana, entah sedang berkelana ke mana, aku mendambanya kembali pulang tanpa kurang satu apa pun, aku merindu diriku yang dulu, yang tak mudah kalah dengan udara, cuaca, jarak, atau apa pun itu.

Ya, entah sampai kapan aku kan terus merindu, yang jelas, aku tak akan pernah lelah menunggu, kepulangan-kepulangan yang ku yakin rumahnya adalah aku.

#30HariMenulisSuratCinta
#HarKeempat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s