Untuk kamu yang ku lepas.

Kira-kira, empat tahun yang lalu aku memantapkan diri untuk melepasmu, menyudahi kita tanpa rasa ikhlas. Cemburu yang tak kunjung menemui perubahan, dan sikapmu yang manis pada tiap perempuan. Aku paham benar kau tak mungkin mendua, dan aku tahu benar kau lelaki baik yang selalu menghargai sesama, bukan hanya terhadap perempuan, tapi pada semesta. Namun sebagai perempuan aku tak bisa menerima panggilan sayang untukku darimu, kau gunakan untuk perempuan yang kau labeli sahabat. Kala itu, aku tak mungkin sepenuhnya kuat melepasmu. Dan, apa kau tahu tangisku pecah setelahnya? Tentu saja tidak, sebab tangisku bukan dari mata; ia mengalir dalam dada.

Kau kerap melihatku jauh lebih bahagia setelah lepas darimu? Itu artinya usahaku menutupi rasa kehilangan dengan senyuman dan tawa, berhasil. Karena, kenyataannya aku butuh waktu lama untuk benar-benar mengikhlaskanmu. Sebab, setelah kita berakhir sudah, hari-hariku berikutnya tak serta menjadi ringan, terlebih ratusan pasang mata memandangku penuh heran. Seolah menamparku lagi dan lagi dengan pertanyaan berbuah pernyataan seakan benar. “Mengapa kau lepas lelaki sebaik dia? Bodoh!”

Aku hanya terkekeh dalam diam. Ya, aku tertawa. Menertawakan mereka yang sebenarnya tak pernah tahu bagaimana rasaku untukmu dan mengapa aku memutuskan untuk melepasmu. Mama kerap bertanya padaku, mengapa ku lepas kau yang sebelumnya telah mantap ku pilih menjadi lelakiku? Dan, padanya aku menjelaskan semua secara berkala. Sampai suatu malam Mama berkata tanpa aba-aba, “Dia sering nanyain kamu ke Mama, Mama jawab sewajarnya, kamu tahu akhirnya dia ambil keputusan apa? Dia shalat malam, minta petunjuk Allah, kalau kamu memang bukan untuk dia dan gak akan pernah kembali lagi, dia berdoa kelak kamu dapat yang terbaik.” Kalimat Mama menamparku pelan, namun rasanya seperti pipi yang disayat jemari. Aku sadar tak lama lagi aku akan kehilanganmu, sepenuhnya.

Dan, ternyata benar, entah di tahun ke berapa kau menemukan dia, perempuan yang akhirnya bisa membuatmu mengikhlaskan perpisahan kita, perempuan yang jauh lebih baik dariku, perempuan yang jauh lebih pantas untukmu, perempuan yang jauh lebih menyayangimu, aku dapat melihat hal itu dari kejauhan. Apa aku cemburu? Awalnya jujur saja aku cemburu, lelakiku yang dulu telah memiliki jalannya yang baru. Tapi, apa aku tenggelam dalam penyesalan nan semu? Tentu tidak. Sebab aku tak ingin menua dalam sesal. Terserah dunia mau percaya atau tidak jika aku ikut bahagia atas kebahagiaanmu dan dia. Yang jelas, aku kerap berdoa pada Tuhan untuk merestui hubungan kalian hingga tak lagi terpisahkan.

Kau adalah pasangan yang ku lepaskan, namun tetap bersikap baik padaku, kau tak pamrih, dan kau lelaki hebat. Meski terkadang aku sedih melihatmu membunuh hobimu demi masa depan, yang kau ceritakan sudah alasan untuk serius menitinya perlahan. Untuk membahagiakan keluargamu, terlebih orangtuamu.

Dan, semalam teman kita bicara padaku, tentang kamu yang kerap menanyakanku padanya, dan mentah berkata, “Syan, kenapa gak balikan sama dia? Dia udah sukses parah sekarang, udah sih balikan aja.”

Dan, aku menjawabnya dengan kalimat yang hampir jadi paragraf, atau bahkan memang tanpa sengaja sudah menjadi paragraf.

“Ya, alhamdulillah kalau dia sukses, artinya apa? Kehidupan dia makin lama makin baik. Insya Allah dunia sama akhiratnya seimbang. Kita gak boleh ganggu kebahagiaan orang lain. Seenggaknya, gak boleh ngarepin seseorang yang udah bahagia sama kehidupannya sekarang, buat balik ke kita dan bahagiain kita. Ikhlasin aja. Insya Allah, Allah udah siapain gantinya yang jauh lebih positif. Aamiin. Kita kan gak pernah tau siapa jodoh kita, tapi kita bisa minta yang terbaik. Tapi, sebelumnya perbaikin diri dulu, biar ngerasa pantes minta yang terbaik sama Allah. Insya Allah dikasih.”

Seperti itu.

Dan, kamu tak perlu khawatir, kita akan terus berhubungan baik, aku tahu kau terus mendoakan agar kebaikan mendekat pada hidupku, dan kau pun tahu aku mendoa segala yang terbaik pada Tuhan untukmu. Bahagialah, aku pun bahagia melihatmu bahagia. Lelaki baik yang Tuhan pilih untuk masuk dalam skenario hidupku, namun bukan sebagai teman hidupku. Tak apa, kita masih baik-baik saja, bukan? Ya, akan selalu baik-baik saja.

Tertanda, mantan kekasihmu yang benar-benar bahagia mengetahui hidupmu kini jauh lebih bahagia dan tertata.

#30HariMenulisSuratCinta
#HariKetiga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s