Apa alasanku menyayangi mereka?

Bagi beberapa kepala, menyayangi keluarga memerlukan alasan yang kuat, mereka terus mencari seiring dewasanya usia. Lantas, bagaimana denganku, apa aku sudah menemukan alasan paling tepat?

Aku menyayangi mereka bukan karena keharusan, aku menyayangi mereka bukan karena darahku dan mereka satu, aku menyayangi mereka bukan karena tak memiliki pilihan lain, aku menyayangi mereka, karena aku sayang mereka.

Aku yang tak pandai berkata-kata kerap kali terkesan acuh. Jangankan bicara panjang lebar, sekadar bilang sayang pun lidahku kelu. Mereka memang bukan tempatku bercerita segala tentang hidup, bahkan rahasia demi rahasia pun ku dekap dalam romansa dengan Tuhan. Bisa ku pastikan, Ia satu-satunya sosok yang mengetahui hidupku tanpa kecuali, mengenalku begitu dekat tanpa jarak, mengerti segalaku sejak dalam pikiran. Ia yang selalu memberikan bahagia untukku. Kebaikan-Nya tak pernah luput dari hidupku. Kebaikan terbesar-Nya adalah meletakanku di tengah-tengah keluargaku.

Beberapa kepala kerap bertanya, apa aku tak pernah merasa kesal dengan keluargaku? Apa kehidupanku dengan keluarga selalu harmonis? Jawabannya tentu saja tidak. Aku pasti pernah menyakiti mereka, pun mereka pernah membuat hatiku luka. Bahkan mengantarku sampai ke jurang paling bawah, mendorongku hingga tak kuat lagi bernapas.

Begitulah sayangku pada mereka, dahulu kerap ku jadikan tameng, ku jadikan mereka seolah-olah penyebab luka paling susah pulih. Nyatanya? Caraku menyayangi mereka yang salah. Aku tak pernah bilang caraku menyayangi mereka adalah yang paling benar, namun setidaknya, kini, jika hatiku terluka karena ucapan atau tindakan mereka yang disengaja pun tidak, aku tak butuh sehari penuh tenggelam dalam rasa marah, benci, kecewa, dan lain sebagainya. Cukup ku nikmati romansaku bersama Tuhan, hanya berdua, kemudian Ia akan senantiasa menyadarkanku bahwa keluargaku adalah sosok-sosok yang paling menyayangiku. Mereka akan selalu menjadi rumah meski nanti sudah berhasil ku bangun rumah untuk keluarga kecilku.

Mama, Papa, Mas dan Abang, biarkanlah kita terus mencinta dalam saling, tanpa perlu alasan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s