Tak akan ku ganggu kau yang sudah (kembali) bahagia–sepotong janji dari aku yang tak lagi bisa membahagiakanmu.

Hai, kamu yang pernah melengkapi aku hingga menjadi kita, bagaimana dengan luka hatimu sepeninggalanku yang begitu tiba-tiba beberapa bulan lalu? Sudah mengering atau bahkan makin menganga? Harapku sembuhlah sudah segala luka, usailah sudah segala duka, dan kau dapat kembali bahagia. Andai kau tahu betapa aku larut dalam ketakutan di hari-hari kemarin, takut jika ada rasa benci yang kau bawa saat nanti kita berjumpa secara sengaja pun tidak.

Hai, kamu yang masih saja bisa membuatku tertawa sekaligus meringis, tertawa karena kau memang selalu saja jenaka, meringis karena tawaku kini sendiri, tak ada lagi kamu di hadapan mata yang kembali menertawakanku. Mata yang mengecil, hidung yang tak mungkin ku lupa bagaimana bentuknya, serta bagaimana bibirmu melukis bahagia. Aku tak pernah menyesal telah mengenalmu, pun melepasmu. Karena, aku tahu kelak Tuhan kirim ia yang akan bersedia membahagiakanmu tanpa pernah mencipta sedih dengan sengaja.

Hai, kamu yang kini sudah tak pernah lagi menyapaku, tahukah kau jika aku takut menyapamu lebih dulu? Takut kau benci karena merusak segala yang telah kau susun rapih; hari-harimu yang tanpa aku. Aku selalu segan menanyakan apa pun padamu, aku takut jika lagi-lagi harus mematahkan harapan-harapanmu padaku. Jika saja bisa ku sampaikan; rindu dan segala peduliku. Aku belum kembali membuka hati, ku lakukan secara sadar dan sengaja, sebab di sana masih jelas cerita tentang kita, tak adil rasanya jika seseorang yang mencintaiku penuh ku sediakan tempat yang belum seluruhnya siap huni dan rapih. Maka biarlah ku nikmati segala rasa sendiri; hilang, sepi, rindu, dan segala yang tak jarang membuatku bimbang untuk menyebutnya dengan apa.

Kamu, bahagialah, sesungguhnya aku sangat ingin melihatmu bahagia, meski aku pun pernah melukaimu tanpa permisi. Harapku tak pernah ada benci yang menyelip di tengah kita, aku tak sanggup kau benci, aku tak sanggup menyaksikan kasih yang begitu dalam menjadi sebuah permusuhan. Kau tahu persis alasanku pergi, dan aku ingin kelak kau bisa ikhlas dan mengerti posisiku, yang jika saja Tuhan merestui kita, tak akan ada perpisahan seperih kemarin.

Dari aku yang menyayangimu, akan selalu menyayangimu meski nanti kadar dan keadaannya pasti berubah. Sekali lagi, bahagialah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s