Setuju dengan sebuah lagu berjudul “Ratu”.

Hari ini, sekitar pukul dua siang waktu Indonesia bagian barat, saya melihat sebuah musik video di youtube, yang sebelumnya kerap saya temukan cuplikan video tersebut di media sosial; instagram. Sebuah lagu berjudul Ratu, persembahan dari seorang musisi bernama Cinta Ramlan.

Saya dengarkan lagu tersebut sembari mengunyah tiap-tiap liriknya di kepala dan hati. Tak saya telan mentah-mentah. Kemudian satu dua anggukan tak bisa terhindarkan, mengawali rasa setuju, membuka diri untuk makna yang sampai dengan syahdu.

Beberapa detik setelah bagian tengah lagu, ada suara wanita yang saya kagumi tulisan, pun pribadinya. Djenar Maesa Ayu. Di buka dengan ‘Camkan Perempuan!’ suaranya menjabarkan kalimat-kalimat luar biasa menyadarkan, dan yang paling menempel dalam ingatan adalah tentang kesucian seorang perempuan yang dilihat dari perawan atau tidaknya mereka. Dilanjutkan dengan penjelasan bahwa selaput dara bisa saja rusak karena aktivitas yang tidak melulu lewat persetubuhan.

Dan, lagi-lagi saya membenarkan. Beberapa waktu lalu, saat saya sedang berada di sebuah rumah sakit, ada anak perempuan berusia di bawah lima tahun, air matanya deras dalam dekapan sang Ibu, kemudian baru saya ketahui setelahnya bahwa selaput dara anak tersebut rusak karena jatuh di kamar mandi dengan posisi yang tak dapat saya jabarkan. Tangisnya semakin menjadi-jadi, sanggup pun tidak untuk saya bayangkan bagaimana yang anak kecil itu rasakan. Bukankah kejadian itu sudah cukup menyakitkan? Lantas, mengapa lingkungan tega menambahkan sakit pada batinnya seiring ia dewasa dengan mempermasalahkan keperawanan yang hilang tanpa sedikitpun kesengajaan?

Belum lagi korban pelecehan seksual, lagi-lagi perempuan yang disalahkan. Mulai dari cara berpakaian, hingga pribadi yang katanya mengundang perbuatan-perbuatan kurang ajar. Jadi korban pelecehan saja sudah memukul hati hingga biru dan lebam, belum lagi bimbang memilih telinga mana yang bisa dijadikan tempat bercerita tanpa beban, kemudian luntang-lantung mencari keadilan. Namun, alih-alih kasus terselesaikan, yang ada hanya cacian karena tak bisa menjaga diri dalam pergaulan. Lantas, kepada siapa korban mengadu? Mengapa justru pelaku dilindungi dengan begitu kukuh?

Sebagai perempuan, saya menangis, sedih, marah, kecewa, terluka, dan merasakan sakit lainnya. Tapi, kita harus bangkit, saling memeluk satu sama lain, bukan malah menghujat dan menghakimi seenak jidad. Sebab benar apa yang Djenar Maesa Ayu suarakan,

“Lawan! Sebab perempuan bukan properti, jangan pernah sudi menempatkan diri di posisi ini. Memang tidak mudah, bukan berarti tidak usah.”

Dan, benar apa yang Cinta Ramlan dendangkan,

“Perempuan adalah ratu, manusia lahir dari rahimmu, yang ada di dunia itu semu, jadilah ratu untuk dirimu.”

Mari nikmati karya mereka. Semoga pikiran kita terbuka sama-sama. Sila ▷ http://youtu.be/9Jq373RyABc

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s