Kalut hampir mencekik.

Pagi tadi ponsel ibuku bergetar dan membuahkan satu panggilan tak terjawab karena tak sempat terangkat, kemudian getaran kembali menimbulkan suara karena letaknya di atas meja, kali ini ia menjawab telepon dari nomor yang tak di kenalnya itu.

Entah bagaimana percakapan awal ibu dan si penelepon misterius itu, aku yang sedang di kamar kurang mendengar jelas pembicaraan awal mereka, kemudian suara ibuku bergetar, aku mendengar hela napas yang panjang dan berat dari sana, dari suara ibu.

“Astagfirullah, Revan.” Ibu lemas dan panik luar biasa.

Aku bergegas keluar kamar dan menemukan sepasang mata berkaca-kaca, dengan segala ketakutan dan rasa khawatir yang luar biasa, melihat ibu yang semakin tak bisa menguasai diri, aku segera mengambil ponsel dari genggamannya dan bicara pada orang di seberang sana yang sempat ibu katakan bahwa telepon itu dari kepolisian.

“Selamat siang, Pak, bisa di bantu?” Aku mencoba tenang meskipun napasku tak beraturan.
“Siang, betul saudara Revan ini keluarga, Ibu? Saya bicara dengan siapa ini?” Seorang laki-laki dengan suara berat menjawab di ujung telepon.
“Saya dengan ibunya, Revan, Pak, saya Rida, ada yang bisa di bantu, Pak?” Aku mengaku sebagai ibu, karena ibu tak lagi sanggup bicara, pikirannya kacau, matanya menceritakan itu padaku.
“Iya, Bu, saya dari kepolisian, anak ibu yang bernama, Revan sudah dalam penanganan kami, ia tertangkap karena kasus narkoba, dengan bukti ganja yang di simpan dalam bungkus mie instant, ia mengaku di jebak oleh rekannya, dan sekarang sedang kami periksa kebenarannya, kalau boleh saya tahu keseharian anak ibu seperti apa?”
“Ana saya kerja pagi pulang malam, hanya itu kegiatannya, Pak.”
“Tolong jawab jujur, Bu, apa selama ini ibu pernah mendengar bahwa anak ibu menggunakan narkoba?”
“Saya jawab jujur tanpa mengada-ada, tidak pernah mencium gelagat anak saya menggunakan narkoba, Pak.” Aku menjawab dengan lantang dan tegas, menekankan bahwa kakakku, Revan memang jauh dari hal seperti itu.

Cukup lama aku berbincang pada pria pertama sampai akhirnya ia membuatku mulai luar biasa kebingungan.

“Ibu mau anak ibu kami proses atau damai? Karena satu dari empat tersangka berhasil melarikan diri, dua rekan dari anak ibu sudah di beri jaminan dari keluarganya, dan ini tinggal anak ibu, bagaimana?”
“Saya belum pernah berurusan dengan kepolisian, bisa di jelaskan maksud dari proses dan damai?” Aku mulai ragu, aku mulai berpikir bahwa aku sedang berusaha di tipu, namun hati kecilku khawatir jika, Revan benar-benar di jebak, khawatir ia benar-benar sedang dalam masalah, lagi-lagi aku berusaha tenang meski badanku semakin gemetar, napasku semakin tak karuan.
“Kalau mau di proses anak ibu bisa terkena hukuman 5 tahun penjara, tapi kalau ibu mau damai, kita bisa bantu, dua rekannya sudah di bawa pulang oleh keluarganya dengan kesepakatan jaminan sebesar 25 juta rupiah, dan mereka memberikan 10 juta di awal agar anaknya dapat pulang, bagaimana, Bu?”

Aku terdiam mendengar nominal yang jangankan memiliki, sekedar memegang milik orang lain pun aku tak pernah, ibuku tertegun, tubuhnya tersandar pada dinding kamar, ia semakin lemas, dan aku mulai geram.

“Bu, bagaimana? Ibu bicara dengan atasan saya saja, ya.”
“Baik, Pak.”

Kemudian pria kedua sudah memperdengarkan suara berat dengan hentakan-hentakan di telingaku, dan lagi-lagi aku berusaha tenang.

“Anak ibu sudah kami tangkap, sebelumnya saya pastikan benar saya bicara dengan ibu dari, Revan? Ibu sedang di mana? Dengan siapa saja?”
“Betul, Pak, saya ibunya, saya hanya berdua di rumah dengan adiknya, Revan, tidak ada orang lain.”
“Bagus, sekarang ibu terbuka pada saya, berapa ibu sanggup memberikan jaminan agar anak ibu bisa kita serahkan kembali pulang ke rumah?”
“Jujur saja kalau nominal sebesar itu saya tidak ada, Pak.”
“Ibu jangan bertele-tele, terbuka saja sanggupnya berapa, saya bukan mau memeras ibu, saya hanya membantu, ibu pikir kasus narkoba bisa di bantu seperti ini? Anak jenderal sekalipun tidak bisa di bebaskan begitu saja.”
“Saya sanggup 5 juta, Pak.”
“Baik, 5 juta, bisa ibu transfer sekarang?”
“Saya perlu waktu tiga puluh menit untuk sampai di ATM terdekat, Pak.”
“Ibu jangan bohong, jangan menipu saya, kita tidak punya banyak waktu, bisa ibu jalan sekarang, teleponnya jangan di matikan, saya bisa dengar jika ibu ceritakan ini pada pihak ketiga, saya tunggu sepuluh menit untuk ibu sampai di ATM dan nanti saya beritahu kemana ibu harus mentransfer uang jaminan untuk anak ibu ini.”
“Baik, Pak, baik, saya berangkat sekarang.”

Aku menghampiri ibu yang sedang kalut, aku berusaha mencari jalan keluar, aku duduk di samping ibu yang kian lemas. Dan, telepon sudah ku matikan, bahkan ponsel ibu pun aku non aktifkan, aku tidak menuruti perintah lelaki yang mengaku bernama Sucipto itu, untuk membiarkan telepon dalam keadaan tersambung.

“Bu, aku kok ragu ya? Aku gak percaya mas di tangkap, aku gak percaya ini benar, Bu.”
“Kakak kamu di jebak, sudah, ibu telepon tantemu dulu untuk pinjam uang jaminan.”

Aku segera merebut ponsel dari tangan ibu, dan menghentikannya mengambil keputusan kala ia dalam keadaan luar biasa kalut.

“Aku telepon kantor mas dulu ya, Bu, mastiin ini benar apa enggak, aku gak percaya mas di tangkap.”
“Jangan kelamaan, nanti kakakmu habis di pukuli.” Ibu takut, sangat takut jika buah hatinya benar-benar dalam bahaya.

Aku segera menelepon supervisor di kantor kakakku yang kebetulan sempat ku kenal baik, namun tidak terjawab, kemudian segera ku kirimkan pesan singkat pada supervisornya yang bernama Tuti itu.

“Mbak Tuti, ini aku adiknya Revan, boleh minta tolong?”
“Boleh.”

Tak ku balas pesan singkatnya, segera ku telepon kembali mbak Tuti, dan kali ini terjawab.

“Assalamualaikum, mbak, ini aku Kesya, adiknya Revan, aku ada perlu mau telepon ke kantor mas Revan, tapi kan mbak Tuti sudah gak tugas di sana, maksudnya aku mau minta tolong mbak Tuti informasiin nomor telepon yang bisa aku hubungi, mbak, bisa?”
“Wa’alaikumsalam, iya Kesya, aku sudah gak tugas di sana, oh gitu? Ya sudah, nanti aku kirim ke kamu nomor supervisor yang sekarang, ya.”
“Iya, mbak, saya tunggu ya, mbak, makasih banyak.”

Tak lama kemudian pesan singkat dari mbak Tuti sampai, dan aku segera menelepon supervisor kakakku yang bernama Tari.

“Assalamualaikum, dengan mbak, Tari?”
“Wa’alaikumsalam, iya betul, dari mana?”
“Saya Kesya, mbak, adiknya Revan, mau mastiin aja, apa hari ini Revan masuk kantor?”
“Revan Rinaldi? Iya, ada kok, tapi kalau mau bicara sama dia, telepon lagi saja kira-kira lima menit, soalnya dia juga lagi online sama nasabah sekarang, apa ada pesan?”

‘Alhamdulillah.’ Ucapku dalam hati, bersyukur bahwa ternyata berita tadi tidak benar, tapi ibuku belum juga tenang.

“Iya, mbak, Revan Rinaldi, gini mbak, tadi ada telepon dari oknum tidak bertanggung jawab, telepon ke ibu saya, bilang kalau mas Revan di tangkap polisi, saya sama ibu panik, jadi telepon ke mbak buat mastiin kalau mas Revan gak kenapa-napa dan baik-baik aja di kantor.”
“Astagfirullah, beneran? Enggak kok, gak benar, Revan ada di kantor, gak kenapa-napa.”
“Syukur kalo gitu, saya sama ibu jadi lumayan tenang, itu dulu deh, mbak, makasih ya infonya, maaf ganggu waktu kerjanya, mbak.”

Aku menutup telepon setelah mbak Tari selesai bicara dan membalas salam yang aku ucapkan. Aku tenang, lega, tetapi masih sedikit gemetar, sementara ibu masih sibuk menerka siapa yang meneleponnya tadi, dan mengapa orang itu tahu bahwa kakakku bernama Revan.

Aku berusaha menenangkan ibu, dan ibu berhasil tenang setelah mendengar langsung suara anaknya yang memang baik-baik saja. Aku kembali ke kamar, rebah, dan berpikir, siapa mereka yang berhasil membuat ibuku kalut, membuat napasnya tak beraturan, air matanya hampir menetes, dan jantungnya berdegup lebih dari sekedar kencang. Aku marah, aku geram, kalau saja penipuan itu berhasil membuat ibu tercekik, aku tak akan tinggal diam. Tapi, di balik itu, aku bersyukur, kakakku baik-baik saja, ibuku sudah mulai pulih kembali, meski masih menerka-nerka mereka yang tega berbuat itu.

Dan, aku hanya bersyukur Tuhan menenangkanku dalam kalut yang mencekik ibu, hingga kami bisa melewati satu jam yang begitu tak terduga pagi tadi. Semoga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s