Diamku ramai.

Aku ingin bercerita, sedikit tentang rasa yang tak pernah bisa di mengerti kecuali kelak kita rasakan sendiri.

Bagaimana menangis dan tak tahu apa penyebabnya. Bagaimana merindu dan tak mampu bicara, bukan karena takut tak terbalas, melainkan takut mementahkan harapan yang sedang di masak matang-matang. Bagaimana ingin memeluk ia yang tak mungkin lagi tergapai. Bagaimana ingin kembali pada tempat yang sudah dengan sengaja kita batasi tembok besar.

Entah apa maksud tulisanku malam ini. Hatiku kacau di bunuh semu. Batinku bertengkar. Aku rebah dan berdarah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s