Tentang sepasang manusia.

Entah mulai dari mana, yang jelas aku ingin bercerita. Tentang sepasang manusia yang ku cinta, semakin hari semakin ku tak ingin pisah dengan mereka. Seorang wanita yang nyaman ku panggil mama, pun seorang pria yang senang ku panggil papa.

Hal yang paling tak ku sukai dari diriku sendiri adalah ketika secara sengaja atau tidak ku buat mata mereka basah, merambat pada wajah yang tak lagi muda, lengkap dengan perasaan lebam, mungkin lewat kata-kata atau perbuatanku yang mengecewakan. Jika hal itu terjadi, jauh di dalam sana, pada bagian hati paling tak terjamah, aku menangis sejadi-jadinya.

Aku begitu bahagia kala mereka tersenyum, bahkan sampai tertawa saat aku melemparkan sebuah lelucon, sederhana, namun menghangatkan suasana, memecahkan keheningan yang kerap tiba-tiba datang di tengah pertemuan. Kemudian hatiku berbincang dengan Tuhan, agar kebahagiaan ini tak tergerus waktu.

Wanita kecintaanku memang tak sempurna, pun dengan pria yang ku cinta dengan begitu luar biasa, namun mereka sempurna ketika bersama, dan itu sebabnya aku tak ingin janji suci yang mereka resmikan 27 tahun lalu patah di tengah perjalanannya. Salah satu alasanku untuk terus berusaha menjaga segala apa yang ku punya adalah agar mereka tahu betapa aku menjaga semua karena aku butuh mereka, karena aku sayang mereka, mereka, bukan salah satu dari mereka, tapi kedua-duanya.

Kini kepala lima sudah usia mereka, itu artinya setengah abad sudah mereka di dunia, tak lagi muda, tapi syukurku Tuhan beri sehat pada tubuh-tubuh kecintaanku itu. Bagaimana dengan aku? Apa berhasil sudah membuat mereka bangga? Entahlah. Yang jelas, selama ini aku tak pernah berniat memangku tangan dan duduk-duduk saja, ada pembicaraan yang ku rahasiakan, hanya antara aku dan Tuhan, tentang sebuah perjalanan menuju apa yang ku cita-citakan, perjalanan yang berkali-kali sudah membuatku terjatuh di dalamnya, perjalanan yang beribu-ribu sudah dilengkapi dengan cacian, makian, dan segala bentuk yang mencoba mematahkan.

Tapi, lagi-lagi ku percaya Tuhan selalu ada, memelukku dari segala arah, menjagaku setiap waktu-Nya. Dan, secara jelas ku meminta pada-Nya, untuk izinkan sepasang manusia kecintaanku tetap ada, hingga aku sampai. Agar kelak mereka yang memelukku erat, agar dada-dada mereka yang ku basahi tangis haru, agar kening dan wajah mereka yang ku kecup penuh kasih, agar segala mereka dapat ku bahagiakan.

Aku tak lagi bicara semoga, ini tentang sebuah doa dan usaha, yang terus mencari jalan untuk menemukan restu Tuhan.

Sebuah kalimat penutup,

“Tuhan, terima kasih telah menulis skenario untuk kehidupanku, terima kasih telah menyutradarianya dengan luar biasa sabar, penuh kasih, dan terima kasih karena kau telah berikan sepasang pemeran utama yang begitu mudah ku cinta dan tak mungkin ku benci keberadaannya.”

Tulisan yang terurai begitu saja dari seorang anak perempuan, yang tetap ingin jadi gadis kecil mama dan papa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s